Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/darulama/public_html/wp-content/plugins/cpanel-mailer/cpanel-mailer.php:1) in /home/darulama/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
KAJIAN – PON. PES. DARUL AMANAH BEDONO https://darulamanahbedono.com BEDONO-JAMBU-KAB. SEMARANG Fri, 07 Mar 2025 14:59:10 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.4 https://darulamanahbedono.com/wp-content/uploads/2021/09/cropped-LOGO-WEB-TAB-32x32.png KAJIAN – PON. PES. DARUL AMANAH BEDONO https://darulamanahbedono.com 32 32 Meneladani hikmah : Motivasi hidup dari 3 Tokoh Inspirator https://darulamanahbedono.com/meneladani-hikmah-motivasi-hidup-dari-3-tokoh-inspirator/ Fri, 07 Mar 2025 14:54:00 +0000 https://darulamanahbedono.com/?p=1632

Tidak terasa Bulan ramadhan sudah seminggu berlalu. Termasuk di Pondok Pesantren Darul Amanah Bedono yang senentiasa menjalankan kegiatan rutinitasnya di sore hari. Ngabuburit asyik santri yang berisi kajian menarik dari Pimpinan Pesantren Darul Amanah Bedono beserta jajaran assatidz menambah ilmu sinambi menunggu adzan maghrib. Di hari ke-7 ini tampak spesial karena hadir di hadapan santri 2 tokoh sahabat karib dari kyai Ahmad Mustafidin. Beliaulah kyai Syaiful Hadi,M.Pd dan Al Ustadz Zainal Arifin,S.Pd.I yang berasal dari satu Almamater bersama kyai Ahmad Mustafidin S.Pd.I., M.S.I. yang berada Pondok Pesantren Darul Amanah Sukorejo Kendal. Pada kesempatan ini beliau hadir untuk menyampaikan motivasi kepada seluruh santri  Pondok Pesantren Darul Amanah Bedono.

Motivasi Dari Kyai Syaiful Hadi,M.Pd

Di hadapan santri Darul Amanah Bedono beliau menyampaikan pengalamannya sejak di pondok pesantren hingga sekarang. Beliau merupakan pimpinan Pondok Pesantren  Preneur Darul Alam Kendal yang berbasis wirausaha peternakan. Secara garis besar beliau menyampaikan pentingnya disiplin, sabar, syukur dan bahagia.

Disiplin merupakan salah satu faktor kunci dalam mencapai kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Disiplin mencerminkan kemampuan seseorang untuk mengontrol diri, menaati aturan, dan menjalankan tanggung jawab dengan konsisten.

Jika saya dulu ketika nyantri tidak didisiplinkan. Mungkin sekarang saya tidak bisa menjadi seperti ini. Inilah pentingnya mendisiplinkan diri saat di pesantren. Dari kebiasaan disiplin ini hingga saya pernah mempunyai suatu angan. Dan pada saat itu saya gambar keinginan saya yaitu saya tampak berdiri di mimbar dan di hadapan saya banyak hadirin yang berpeci menghadap ke saya. Dan dengan sabar alhamdulillah beberapa tahun setelahnya, impian saya terwujud” ujar kyai Syaiful Hadi

Begitu pentingnya bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan. Terutama adalah cobaan di pesantren. Karena ujian terbesar bagi seorang santri adalah menuntut ilmu di pesantren. Banyak sekali hal-hal atau permasalahan yang harus di hadapi. Mulai dari diri sendiri, teman, kesulitan belajar, hukuman, dsb. Tetapi yakinlah allah akan memberi pertlongan bagi orang yang sabar.

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ ۝٤٥

 Artinya Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,

Setelah bersabar, Perbanyaklah bersyukur. Nikmati semua proses yang dihadapi. Bahagialah dalam menjalani kehidupan ini. Karena dengan merasa bahagia dimanapun berada pasti banyak kemudahan-kemudahan yang Allah berikan kepada kita.

Motivasi Dari Kyai Ahmad Mustafidin S.Pd.I., M.S.I.

Sebagai pimpinan pesantren sekaligus shohibul bait KyaiAhmad Mustafidin S.Pd.I., M.S.I. menyambut hangat kedua sahabatnya. Hal tersebut terlihat dalam sambutannya KyaiAhmad Mustafidin S.Pd.I., M.S.I. memperkenalkan lingkungan pesantren dan kebiasaan santri Pondok Pesantren Darul Amanah Bedono. Termasuk kepada seluruh santri beliau menyampaikan tentang pentingnya motivasi diri.

Motivasi adalah faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau mencapai tujuan tertentu. Secara umum, motivasi terbagimenjadi dua jenis utama, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Motivasi Intrinsik Motivasi intrinsik merujuk pada dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang. Individu yang memiliki motivasi intrinsik melakukan suatu kegiatan karena mereka menikmati aktivitas itu sendiri, merasa puas, atau merasa bahwa aktivitas tersebut memberikan kepuasan emosional atau pencapaian pribadi.

Motivasi Ekstrinsik Motivasi ekstrinsik, di sisi lain, datang dari faktor luar individu. Orang yang termotivasi secara ekstrinsik melakukan suatu aktivitas untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan penghargaan atau hadiah yang berasal dari luar diri mereka, seperti uang, pujian, atau status sosial.

“Sebagai seorang santri kalian harus mempunyai kedua motivasi tersebut. Karena dengan adanya motivasi kalian semua bisa bangkit dan bergerak untuk terus belajar dengan sungguh-sungguh.kalian adalah santri yang hebat. Jangan salah, di pesantren kalian di gembleng dengan maksimal. Harapnya, setelah lulus nanti kalian bisa jadi Doktor, professor, TNI, Polisi, Akademisi, guru, dosen,  petani, peternak, pengusaha dan lain sebagainya. Tapi ingat wahai anak-anakku..jangan tinggalkan akhlak kalian. Kalian harus menanamkan jiwa santri dimanapun kalian berada.” Ujar Kyai Ahmad Mustafidin.

Motivasi Dari Al Ustadz Zainal Arifin, S.Pd.I

Al Ustadz Zainal Arifin,S.Pd.I adalah alumni Darul Amanah Sukorejo Kendal tahun 2002. Setelah beliau lulus beliau menjadi aktivis di berbagai macam bidang. Salah satunya yaitu beliau menjadi sekretaris Dewan Koprasi Indonesia (DEKOPIN) di Daerah Jawa Tengah. DEKOPIN adalah satu organisasi tunggal gerakan koperasi Indonesia yang berfungsi sebagai wadah untuk memperjuangkan dan bertindak sebagai pembawa aspirasi koperasi.

Selain itu, beliau juga aktif di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah (KPID). wewenang dan lingkup tugas Komisi Penyiaran meliputi pengaturan penyiaran yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyiaran PublikLembaga Penyiaran Swasta, dan Lembaga Penyiaran Komunitas.

Pada kesempatan ini beliau bertatap muka langsung kepada seluruh santri Darul Amanah Bedono. Beliau menyampaikan beberapa motivasi kepada seluruh santriwan dan santriwati perihal menuntut ilmu.

Menuntut ilmu adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi bagi setiap Muslim. Pondok pesantren adalah salah satu tempat yang sangat baik untuk menuntut ilmu, karena tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak para santri. Dengan menuntut ilmu di pondok pesantren, diharapkan seseorang dapat menjalani kehidupan yang lebih baik, bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara, serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

“Barang siapa yang ada kemauan pasti ada jalan. Jadi janganlah kalian merasa ragu dan malu untuk terus belajar. Tidak ada Batasan usia untuk belajar karena sejatinya kewajiban menuntut ilmu itu sejak dari buaian sampe ke liang lahat (Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi). Kalian adalah orang-orang pilihan. Oleh karenannya kalian harus selalu yakin dengan semua harapan kalian. Insya Allah kalian suatu saat nanti bisa mewujudkannnya.” Ujar Al Ustadz Zainal Arifin

]]>
Keutamaan Ilmu dalam Islam: Hadits-Hadits Pilihan https://darulamanahbedono.com/hadits-hadits-populer-tentang-ilmu/ Thu, 06 Mar 2025 13:43:29 +0000 https://darulamanahbedono.com/?p=1624

Kyai Ahmad Mustafidin, S.Pd.I., M.S.I menyampaikan kajian ramadhan di Masjid Annur di hari ke-6 bulan ramadhan. Hadir dalam majlis tersebut seluruh santri Darul Amanah Bedono beserta jajaran Assatidz. Abi, sapaan akrab dari Kyai Ahmad Mustafidin menyampaikan beberapa hadits tentang ilmu secara jelas dan tegas. Hadits-hadits yang beliau sampaikan yaitu dalam rangka memberi motivasi kepada seluruh santri Darul Amanah Bedono. Beliau menyampaikan beberapa hadits antara lain

Mencontohkah perbuatan yang baik

من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة ومن سن سنة سيئة كان عليه مثل وزر من عمل بها من غير ان ينقص من أوزارهم شيء

Artinya, “Siapapun orang yang mencontohkan suatu sunnah (perbuatan) yang baik  yang diamalkan oleh orang lain setelahnya. Maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang lain yang telah melakukan perbuatan baik tersebut tanpa mengurangi pahala orang-orang yang telah melakukannya. Siapun orang yang mencontohkan suatu perbuatan yang jelek. Maka ia mendapat dosa sebanyak dosa orang lain yang telah melakukan perbuatan jelek tersebut. Hal tersebut tanpa mengurangi dosa orang-orang yang telah melakukannya.

Dari redaksi hadis di atas, al-Suyūṭi berkesimpulan bahwa sunnah ḥasanah atau perbuatan baik dalam hadis di atas adalah perbuatan baik yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran maupun hadis. Sehingga maksud dari hadis di atas adalah bukan menciptakan sunnah baik atau buruk, melainkan menciptakan atau memulai perbuatan baik yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Sehingga batasannya adalah sesuai koridor agama atau tidak.

Misalnya, bagi para pencuri, perbuatan yang baik menurut dia adalah mencuri, tetapi mencuri bertentangan dengan agama, maka bukan termasuk perbuatan baik menurut hadis di atas.

Menempuh suatu jalan untuk menuntut Ilmu

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّة

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga  (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan keutamaan menuntut ilmu, khususnya ilmu agama. Menempuh jalan ilmu bisa bermakna secara fisik (pergi ke majelis ilmu) maupun secara maknawi (belajar, membaca, dan memahami ilmu).

Allah akan memudahkan jalan ke surga bagi penuntut ilmu karena ilmu adalah kunci ibadah yang benar, menjauhkan dari kesesatan, dan menjadi sebab datangnya hidayah. Selain itu, ilmu mengangkat derajat seseorang di sisi Allah dan makhluk-Nya.

menuntut ilmu adalah ibadah yang mendekatkan seseorang kepada Allah dan menjadi sarana untuk meraih surga. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu bersemangat dalam menuntut ilmu dengan niat yang ikhlas.

Sebaik baik manusia adalah orang mukmin yang ‘alim

 أفضل الناس المؤمن العالم الذي إن احتيج إليه نفع وإن استغني عنه أغنى نفسه 

“Seutama-utama manusia adalah orang mukmin yang ‘alim (berilmu) yang jika ia dibutuhkan maka ia bermanfaat, dan jika ia tidak dibutuhkan maka ia mencukupkan diri”.

Hadits ini menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah seorang mukmin yang memiliki ilmu (‘alim). Maksud dari Ilmu tersebut adalah ilmu yang bermanfaat. Terutama ilmu agama yang dapat membimbing dirinya dan orang lain menuju kebaikan.

Seorang mukmin yang berilmu memiliki dua keutamaan:

  1. Bermanfaat bagi orang lain – Ketika ada yang meminta bantuannya, ilmunya dapat memberikan solusi, bimbingan, dan manfaat bagi masyarakat.
  2. Mencukupkan diri ketika tidak dibutuhkan – Ia tidak mencari popularitas atau mengharapkan penghormatan, tetapi tetap menjaga dirinya dengan ilmu dan amal.

Hadits ini mengajarkan bahwa ilmu harus disertai dengan keimanan dan akhlak yang baik agar benar-benar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Orang yang paling dekat dengan Nabi adalah orang yang berilmu dan berjihad

أقرب الناس من درجة النبوة أهل العلم والجهاد : أما أهل العلم فدلوا الناس على ما جاءت به الرسل وأما أهل الجهاد فجاهدوا بأسيافهم على ما جاءت به الرسل ”

“Orang yang paling dekat dengan derajat kenabian adalah ahi ilmu dan jihad. Adapun ahli ilmu maka mereka menunjukkan manusia atas apa yang para rasul bawa. Sedangkan ahli jihad, mereka berjuang dengan pedang (senjata) mereka atas apa yang di bawa oleh para rasul”

Hadits ini menjelaskan bahwa dua golongan yang paling dekat dengan derajat kenabian adalah ahli ilmu dan ahli jihad.

  1. Ahli ilmu – Mereka berperan dalam menyebarkan dan menjelaskan ajaran para rasul, membimbing manusia kepada kebenaran, serta menjaga kemurnian agama dengan ilmu yang mereka miliki.
  2. Ahli jihad – Mereka berjuang mempertahankan agama dan melindungi umat Islam dari ancaman, sehingga ajaran para rasul tetap tegak dan dapat siapapun bisa mengamalkan dengan aman.

Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu dan jihad adalah dua pilar utama dalam menjaga dan menegakkan agama Islam. Ilmu menjadi cahaya yang membimbing, sedangkan jihad menjadi benteng yang melindungi ajaran Islam.

Tinta Ulama akan ditimbang dengan darah syahid

 يوزن يوم القيامة مداد العلماء ودماء الشهداء ”

“Pada hari Kiamat, tinta ulama itu di timbang dengan darah orang-orang yang mati syahid”.

Hadits ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan jihad dalam Islam. Pada hari Kiamat, tinta para ulama yang berguna untuk menulis dan menyebarkan ilmu, akan ditimbang dengan darah para syuhada, yang berjuang membela agama dengan nyawa mereka.

Hal ini menegaskan bahwa:

  1. Ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi, karena melalui ilmu, ajaran Islam tersebar dan terjaga keasliannya.
  2. Jihad juga memiliki keutamaan besar, karena para syuhada mengorbankan jiwa mereka demi menegakkan agama.
  3. Kedua amal ini saling melengkapi, di mana ilmu membimbing umat, dan jihad menjaga serta mempertahankan kebenaran Islam.

Hadits ini mengajarkan bahwa menuntut ilmu dan menyebarkannya adalah amal yang sangat mulia. Bahkan berbanding dengan pengorbanan besar seperti jihad di jalan Allah.

]]>
Tawakal Sebagai kefardhuan Batin Dari Kalimat Laa Illaha Illallah https://darulamanahbedono.com/tawakal-sebagai-kewajiban-batin-dari-kalimat-laa-illaha-illallah/ Wed, 05 Mar 2025 12:10:48 +0000 https://darulamanahbedono.com/?p=1620

Al Ustadz Fina Ni’amul Mahbub, M.Pd dalam kegiatan ngabuburit ramadhan di pondok pesantren Darul Amanah Bedono menyampaikan kajian kitab Kasyifatus Saja. Beberapa pembahasan terkemas secara detail dan menarik hingga menambah kesan tersendiri bagi pendengarnya. Dalam kajian tersebut Al ustadz fina ni’amul mahbub, M.Pd menyampaiakan kefardhuan dhohir dan batin dari kalimat Laa Illaha Illallah. Beliau menyampaiakan Sebagian ulama berkata, “Sesungguhnya kalimah ‘االله إلا إله لا ‘terdiri dari 12 huruf. Berdasarkan jumlah huruf-hurufnya, terdapat 12 kefardhuan. 6 kefardhuan adalah kefardhuan dzohir dan 6 sisanya adalah kefardhuan batin. Adapun 6 kefardhuan dzohir adalah thoharoh, sholat, zakat, puasa, haji, dan jihad. Sedangkan 6 kefardhuan batin adalah tawakkal, tafwidh, sabar, ridho, zuhud, dan taubat.” Pada kesempatan kali ini Al ustadz fina ni’amul mahbub, M.Pd menyampaiakan 1 kefardhuan batin yaitu tawakal.

Makna Tawakkal

Penjelasan dalam kitab Kasyifatus Saja  yang merupakan syarah dari kitab safinatunnajah

وقوله التوكل هو ثقة القلب بالوكيل الحق تعالى بحيث يسكن عن الاضطراب عند تعذر الأسباب ثقة بمسبب الأسباب

Perkataan sebagian ulama di atas yang berbunyi ‘tawakal’ berarti rasa hati mempercayai Wakil. Wakil yaitu Allah ta’ala, sekiranya hati merasa tenang-tenang saja dan tidak goyah ketika mengalami kesulitan asbab. (Semua jenis perantara untuk menghasilkan tujuan, seperti; bekerja sebagai perantara untuk mendapatkan rizki, belajar sebagai perantara untuk menghasilkan ilmu, dll.) Karena hati percaya kepada Yang Menciptakan asbab itu.

وعن أويس القرني أنه قال لو عبدت االله عبادة أهل السموات والأرض لا يقبل االله منك حتى تكون آمناً بما تكفل االله من أمر رزقك وترى جسدك فارغاً لعبادته قال تعالى فتوكلوا إن كنتم مؤمني

Riwayat dari Uwais al-Qorni bahwa ia berkata, “Andaikan kamu beribadah kepada Allah dengan bentuk ibadah seperti yang dilakukan penduduk langit dan bumi maka Dia tidak akan menerima ibadahmu itu sampai kamu benar-benar merasa tenang dan nyaman atas segala sesuatu yang Dia tanggung untukmu, seperti; urusan rizkimu, dan kamu melihat dan meyakini bahwa jasadmu hanyalah diperuntukkan beribadah kepada-Nya. Dia berfirman, ‘Bertawakkalah kalian jika kalian adalah orang-orang yang Mukmin

 Hadits Tawakkal

وقال صلى االله عليه وسلّم لو توكلتم على االله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصاً أي تذهب بكرة وهي جياع وتروح بطاناً أي وترجع عشية وهي ممتلئة الأجواف فذكر أ ا تغدو وتروح في طلب الرزق والمعنى لو اعتمدتم على االله في ذهابكم ومجيئكم وتصرفكم وعلمتم أن الخير بيده لم تنصرفوا إلا غانمين سالمين ولأغناكم التوكل على االله عن الادخار كالطير لكنكم اعتمدتم على قوتكم وكسبكم وهذا ينافي التوكل

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Apabila kalian ber-tawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal maka Dia akan memberi kalian rizki sebagaimana Dia memberi rizki kepada burung yang pagi hari pergi dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menyebutkan bahwa burung itu pergi pada pagi hari dan merasa nyaman dalam mencari rizki. Maksud sabda beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama tersebut adalah bahwa jika kalian berpegang teguh kepada Allah saat pergi (mencari rizki), saat pulang (dari bekerja mencari rizki), dan saat menggunakan (rizki), serta kalian mengetahui bahwa segala kebaikan berada dalam kekuasaan-Nya maka tidaklah kalian pulang kecuali sebagai orang-orang yang mendapat keuntungan dan yang selamat. Sesungguhnya perkara yang lebih mencukupi bagi kalian adalah tawakkal kepada Allah daripada menyimpan atau menabung, seperti burung itu, tetapi kalian malahan berpegang teguh pada kekuatan dan pekerjaan kalian. Ini meniadakan ketawakkalan kepada Allah.

وروي عن بعض العلماء أن أشد الخلق توكلا الطير وطمعاً النمل

berdasarkan Riwayat dari sebagian ulama menyatakan bahwa makhluk yang paling besar tawakal nya adalah burung. Makhluk yang paling besar tamaknya adalah semut.

kisah Imam Ahmad dalam suatu Hadits

وليس المراد بالتوكل ترك الكسب بالكلية وسئل الإمام أحمد رضي االله عنه عن رجل جلس في بيته أو في المسجد وقال لا أعمل شيئاً حتى يأتيني رزقي فقال هذا رجل جهل العلم فقد قال صلى االله عليه وسلّم ان االله جعل رزقي تحت ظل رمحي أي الرمح سبب لتحصيل الرزق ومراده أن معظم الرزق كان من الغنائم وإلا فقد كان يأكل من جهات أخرى غير الرمح ذكره السحيمي

Yang dimaksud dengan tawakkal bukan berarti tidak bekerja sama sekali. Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang seorang laki-laki yang duduk di rumahnya atau di masjid dan berkata, “Aku tidak akan melakukan aktifitas apapun sampai rizkiku telah mendatangiku dulu.” Imam Ahmad menjawab, “Laki-laki itu adalah orang yang bodoh tentang ilmu karena sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.’ (Maksudnya, tombak adalah sebab atau perantara menghasilkan rizkiku).” Suhaimi berkata, “Maksud hadis di atas adalah bahwa sebagian besar rizki Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berasal dari jarahan-jarahan perang. Jika tidak demikian maka beliau makan atau mendapat rizki dengan cara yang lain.”

]]>
Memahami Makna Tauhid Dalam Kitab Safinatunnajah https://darulamanahbedono.com/memahami-makna-tauhid-dalam-kitab-safinatunnajah/ Tue, 04 Mar 2025 15:13:12 +0000 https://darulamanahbedono.com/?p=1617

Al Ustadz Fina Ni’amul Mahbub, M.Pd dalam kegiatan ngabuburit ramadhan di pondok pesantren Darul Amanah Bedono menyampaikan kajian kitab safinatunnajah. Pemahaman makna tauhid menjadi pembahasan yang menarik hingga menambah kesan tersendiri bagi pendengarnya.

Makna kalimat laa illaha illallahu

قال المصنف رحمه الله تعالى (ومعنى لا إله إلا الله لا معبود بحق) كائن (في الوجود إلا الله) أي لا يستحق أن يذل له كل شيء إلا الله

Syeh Salim bin Sumair al-Khadromi rahimahullah berkata. Makna kalimah tauhid ‘ لا إله إلا الله ’ adalah tidak ada sesembahan yang haq dan tetap [dalam wujudnya kecuali Allah.]. Maksudnya adalah bahwa segala sesuatu tidak berhak menghinakan diri atau menyembah kecuali kepada Allah.

Syekh Salim bin Sumair al-Khadrami rahimahullah dalam pernyataannya menjelaskan makna kalimat tauhid لا إله إلا الله . Hal sebagai pengakuan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak manusia sembah dengan haq selain Allah.

Penjelasan ini menegaskan bahwa meskipun ada banyak sesembahan yang dilakukan oleh manusia. Baik berupa berhala, makhluk, ataupun hawa nafsu, semua itu tidak memiliki hak untuk disembah. Satu-satunya yang berhak menerima ibadah adalah Allah. Karena hanya Dia yang memiliki sifat ketuhanan yang hakiki, yang menciptakan, mengatur, dan berkuasa atas segala sesuatu.

Dengan demikian, kalimat لا إله إلا الله  menuntut seorang Muslim untuk meniadakan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah (nafyi). Selain itu, menetapkan penyembahan hanya kepada-Nya (itsbat). Ini juga mengandung konsekuensi bahwa seorang Muslim harus menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan. Seorang Muslim harusmengarahkan seluruh ibadah, ketaatan, serta ketundukan hanya kepada Allah semata.

Keutamaan Kalimah Lailaha illallah

(وفضائلها) لا تحصى منها قوله صلى الله عليه وسلّم من قال لا إله إلا الله ثلاث مراتفي يومه كانت له كفارة لكل ذنب أصابه في ذلك اليوم

[Keutamaan-keutamaan lafadz لا إله إلا الله tidak terhitung banyaknya. Di antaranya adalah sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Barang siapa mengucapkan kalimah ’لا إله إلا الله sebanyak tiga kali di setiap harinya maka baginya kalimah tersebut adalah pelebur dosa-dosa yang telah ia lakukan pada hari itu.”

وعن كعب الأخبار رضي الله عنه أوحى الله تعالى إلى موسى في التوراة لولا من يقول لاإله إلا الله لسلطت جهنم على أهل الدنيا

Menurut Riwayat dari Ka’ab bin Akhbar radhiyallahu ‘anhu, “Allah telah memberikan wahyu kepada Musa di dalam kitab Taurat. (Wahyu tersebut berbunyi), ‘Andaikan tidak ada orang yang mengucapkan kalimah tauhid ‘ لا إله إلا الله ’ niscaya Aku akan memberikan wewenang kepada Jahanam agar menghancurkan para penduduk dunia.”

قال السحيمي أفضل الأشياء الإيمان وهو قلبي وأفضل الكلام كلام الله وأفضله القرآن وأفضل الكلام بعده لا إله إلا الله فهي أفضل من الحمد على الصحيح لأ ا تنفي الكفر

Suhaimi berkata, “Segala sesuatu yang paling utama adalah iman. Iman adalah perbuatan hati (qolbiy). Ucapan yang paling utama adalah Firman Allah. Firman Allah yang paling utama adalah al-Quran. Ucapan yang paling utama setelah Firman Allah adalah kalimah ‘ لا إله إلا الله Menurut pendapat shohih, kalimah ‘ ’لا إله إلا الله adalah lebih utama daripada kalimah ‘ الحمد لله ’ karena ‘ ’لا إله إلا الله menafikan kekufuran.”

Hikmah dibalik makna Lailaha illallah

وقال بعضهم إن كلمة لا إله إلا الله اثنا عشر حرفا فلا جرم أي فلا بد أنه وجب ااثنتا عشرة فريضة سنة ظاهرة وسنة باطنة أما الظاهرة فالطهارة والصلاة والزكاة والصوموالحج والجهاد وأما الباطنة فالتوكل والتفويض والصبر والرضا والزهد والتوبة

Sebagian ulama berkata, “Sesungguhnya kalimah ‘ ’لا إله إلا اللهterdiri dari 12 huruf. Berdasarkan jumlah huruf-hurufnya,difardhukan 12 kefardhuan. 6 kefardhuan adalah kefardhuan dzohir dan 6 sisanya adalah kefardhuan batin. Adapun 6 kefardhuan dzohir adalah thoharoh, sholat, zakat, puasa, haji, dan jihad. Sedangkan 6 kefardhuan batin adalah tawakkal, tafwidh, sabar, ridho, zuhud, dan taubat.

قوله والجهاد أي القتال في سبيل الله لإقامة الدين وهذا هو الجهاد الأصغر وأما الجهادالأكبر فهو مجاهدة النفس

Perkataan sebagian ulama di atas yang berbunyi ‘jihad) ) berarti berperang di jalan Allah karena menegakkan agama.Jihad dengan pengertian ini disebut dengan jihad asghor atau jihad kecil. Adapun jihad akbar atau jihad besar adalah memerangi hawa nafsu.

]]>
Kenali Tingkatan Dan Rahasia Puasa Menurut Kitab Mauidzotul Mukminin https://darulamanahbedono.com/kenali-tingkatan-dan-rahasia-puasa-menurut-kitab-mauidzotul-mukminin/ Mon, 03 Mar 2025 15:05:51 +0000 https://darulamanahbedono.com/?p=1611

Al Ustadz Fina Ni’amul Mahbub, M.Pd dalam kegiatan ngabuburit ramadhan di pondok pesantren Darul Amanah Bedono. Dalam kajiannya menyampaikan kitab Mauidzotul Mukminin yang merupakan mukhtashor dari kitab ihya ulumudin. Kajian tersebut membahas Beberapa hal secara detail dan menarik hingga menambah kesan tersendiri bagi pendengarnya. Dalam kajian tersebut Al ustadz fina ni’amul mahbub, M.Pd menyampaiakan perkara tingkatan dan rahasia puasa menurut kitab Mauidzotul Mukminin.

Tingkatan Puasa

Menurut Imam Al Ghazali rahimahullah

للصوم ثلاث مراتب: صوم العموم ، وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص

 “Puasa itu memiliki tiga tingkatan: Puasa Umum, Puasa Khusus, dan Puasa Khusus dari Khusus.”

  1. Pertama

فأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة.-

“Maka adapun puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menuruti syahwat.”

Tingkatan puasa pertama adalah puasa umum. Puasa umum adalah puasanya orang awam. Yang mana godaan terberat dalam puasa ‘umum ini adalah menahan perut dari mulai makan, minum dsb. Selain perut hal yang terberat dalam tingkatan ‘umum ini adalah menahan kemaluan dari hawa hafsu seperti berseggama, berzina dan lain sebagainya. Kita sebagai orang awam dalam tingkatan ini hendaklah menjaga kedua hal tersebut.

وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوصِ وَهُوَ صَوْمُ الصَّالحِيْنَ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ

2. Kedua

“Dan adapun Puasa Khusus adalah puasanya orang-orang saleh, adalah menahan pendengaran, pandangan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa.”

Puasa Khusus adalah tingkatan puasa yang lebih dari sekadar menahan diri dari makan dan minum. Ini adalah puasanya orang-orang saleh yang menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Puasa ini bertujuan untuk mencapai kesucian hati dan kedekatan yang lebih dalam dengan Allah.

3. Ketiga

وأمَّا صَوْمُ خُصُوْصِ الخُصُوْصِ فَصَوْمُ القَلْبِ عَنِ الهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللهِ عزَّ وجَلَّ بِالكُلِّيَّةِ وَيَحْصُلُ الفِطْرُ في هذَا الصَّوْمِ بِالفِكْرِ فيمَا سِوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاليَوْمِ الْآخِرِ وَبِاْلفِكْرِ في الدُّنْيَا، وَهٰذِهِ رُتْبَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالمُقَرَّبِيْنَ فإنَّهُ إِقْبَالٌ بِكُنْهِ الهِمَّةِ علَى اللهِ عزَّ وَجَلَّ وَانْصِرَافٌ عَنْ غَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ. ا.هـ بتصرّف

“Dan adapun Puasa Super Khusus adalah puasanya hati dari selera yang rendah, pikiran keduniaan, dan menahanya dari berpaling kepada selain Allah Allah subḥānahu wataʿālā secara totalitas.

Puasa Super Khusus adalah tingkatan siyam tertinggi. Dimana seseorang tidak hanya menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu, tetapi juga menjaga hati dan pikirannya dari hal-hal duniawi yang dapat menjauhkan dari Allah. Ini mencakup menghindari keinginan rendah, menjaga fokus hanya kepada Allah, dan mencapai ketulusan serta kesucian batin secara total.

Rahasia-Rahasia Puasa

Al Ustadz Fina Ni’amul Mahbub, M.Pd melanjutkan materi pembahasan yaitu rahasia-rahasia puasa. Dalam Kitab Mauidzotul Mukminin, Imam Al-Ghazali menjelaskan keharusan untuk menjaga enam rahasia puasa agar ibadah ini benar-benar diterima oleh Allah:

  • Menjaga pandangan (ghadhdhul bashar) dari segala hal yang haram, karena pandangan adalah pintu pertama masuknya godaan.

Dalam konteks ini yaitu menundukkan pandangan dan menjaganya dari jangkauan pandangan segala sesuatu yang merendahkan. Selain itu juga semua yang menyibukkan hati dan melalaikannya dari Allah SWT. Oleh sebab itu, mata merupakan pihak pertama yang menjadi pintu masuknya segala kebaikan dan keburukan, maka dia menempati urutan pertama yang harus terjaga.

  • Menjaga lisan dari ucapan sia-sia, ghibah, fitnah, dan pertengkaran. Menahan telinga dari mendengar hal-hal yang haram atau tidak bermanfaat.

Puasanya lisan, menurut Al-Ghazali, berarti menjaganya dari perkataan yang sia-sia, dusta, ungkapan adu domba,dan perkataan keji. Selain itu, ucapan yang merusak hubungan, kata permusuhan, dan ungkapan yang mengandung riya juga termasuk didalamnya. Demikian sebaliknya, anjuran ketika sedang berpuasa untuk berdiam diri serta menyibukkan dengan zikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.

  • Menjaga pendengaran mencegah pendengaran dari hal-hal yang makruh.

   Menurut Al-Ghazali, setiap ucapan yang haram berarti haram pula mendengarkannya. Maka dari itu, Allah menyamakan antara orang yang mendengar dengan yang makan makanan haram, seperti firman-Nya: “Mereka orang-orang yang suka mendengar untuk berdusta dan memakan yang haram.” (QS Al-Maidah [5]: 42).

  • Menjaga tangan dan kaki dari perbuatan maksiat serta menghindari makanan syubhat ketika berbuka.

Menjaga tangan dan kaki dari perbuatan maksiat berarti menghindari segala tindakan yang dilarang oleh agama. Sebagai contoh seperti mencuri, menyakiti orang lain, atau melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sementara itu, menghindari makanan syubhat saat berbuka berarti memastikan makanan yang dikonsumsi halal dan tidak diragukan kehalalannya. Sehingga ibadah puasa tetap bersih dan diterima oleh Allah.

  • Tidak berlebihan dalam berbuka, karena tujuan siyam adalah menundukkan hawa nafsu, bukan sekadar menunda makan.  

Saat berbuka puasa, sebaiknya tidak berlebihan dalam makan dan minum. Tujuan utama siyam adalah melatih pengendalian diri dan menundukkan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan haus di siang hari lalu berlebihan saat berbuka. Makan secukupnya akan membantu tubuh tetap sehat dan menjaga spiritualitas puasa agar tetap murni.

  • Merasa takut dan berharap kepada Allah, karena seorang mukmin sejati tidak pernah merasa aman dari tertolaknya amal.

Seorang mukmin sejati selalu merasa takut dan berharap kepada Allah. Takut karena ia sadar bahwa amalannya bisa saja tidak diterima akibat kekurangan atau ketidaktulusan, dan berharap karena ia yakin akan rahmat serta ampunan Allah. Sikap ini menjadikannya terus berusaha memperbaiki diri, meningkatkan keikhlasan, dan tidak merasa sombong atas amal yang telah dilakukan.

]]>
Jangan Sembarangan Mencatut Nama Allah SWT https://darulamanahbedono.com/jangan-sembarangan-mencatut-nama-allah-swt/ Sat, 01 Mar 2025 15:17:22 +0000 https://darulamanahbedono.com/?p=1607

Bulan Suci Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Allah SWT akan melipatgandakan semua amal kebaikan seseorang. Dalam kajian ramadhan di hari pertama Pondok Pesantren Darul Amanah Bedono, Kyai Ahmad Mustafidin, S.Pd.I., M.S.I menceritakan kisah kisah inspiratif kepada seluruh santri dan assatidz di Masjid Annur agar seluruh hadirin bisa mengambil hikmah yang ada.


Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa- bawa nama Allah untuk kepentingan dirinya. Seolah-olah apa yang ada dalam pikirannya selalu sesuai dengan yang Allah kehendaki. Padahal sejatinya kadang justru malah berkebalikan. Ujar Abi Ahmad Mustafidin.
Ada contoh tentang bagaimana Allah tersinggung bila ada hamba-Nya membawa-bawa nama Allah untuk kepentingan egonya. Salah satu contohnya, di sebutkan dalam Shahih Muslim.


Alkisah ada seorang lelaki yang merasa dirinya benar karena ibadahnya.
“Ada orang sedang bersujud. Sujud itu merupakan salah satu ibadah terbaik.”
Ketika orang ini sedang bersujud, ada seorang ahli maksiat yang menginjak kepalanya. Ketika ahli maksiat tersebut menginjak kepalanya, dia marah. Saking marahnya, dia bilang, “FawAllahi. Laa yaghfirulllahu laka. Demi Allah. Kamu tidak akan di ampuni Allah.”
Merespon kejadian itu, Allah memberi wahyu kepada seorang Nabi. “Beri tahu kepada si Fulan yang sedang sujud itu. Bilang padanya, bagaimana mungkin dia mengatasnamakan sifatku pada seorang hambaku.” Maksudnya dia membawa-bawa nama Allah karena kemarahan dalam dirinya sehingga seolah-olah Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menginjak kepalanya.


“Beri tahu kepada si Fulan kalau Aku mengampuni orang yang menginjak kepalanya dan Aku tidak menerima sujudnya.”
Dalam hal ini, para ulama hadits sepakat kalau Allah tidak suka namanya di bawa -bawa oleh orang lain. Apalagi dalam kasus ini. Mana mungkin Allah yang memiliki sifat Ghafuur (dzat yang maha banyak mengampuni) kok tidak mengampuni dosa orang lain. Sedangkan si Fulan malah menuduh Allah tidak mungkin mengampuni. Ini suatu yang sembrono.


Betapa saat ini banyak orang yang marah entah karena apa lalu membawa-bawa nama Allah untuk menghakimi orang lain. yang biasa melakukan adalah kelompok ekstremis dan orang yang suka memvonis bid’ah. Jadi kita semua harus berhati-hati. Jangan gampang mengatasnamakan Allah untuk memenuhi ego kita. Maka, kita harus mengaji lagi agar tahu sesuatu yang benar dan yang salah.


Sebagai penutup, dalam kajian ramadhan ini Abi Ahmad Mustafidin menyampaikan pesan kepada seluruh santri beserta hadirin yang hadir dalam majlis tersebut. Abi Ahmad Mustafidin menyatakan bahwa janganlah kita menjustifikasi bahwa “orang yang ahli ibadah pasti Allah ampuni dosanya dan orang yang maksiat pasti Allah tidak akan mengampuni dosanya.” karena itu semua adalah ranahnya Allah dan bukan manusia yang menentukan. Sesunggunya Allah maha pengampun dan mengampuni siapa saja yang mau bertobat kepada-NYA sekalipun dia mempunyai dosa besar. Sebagaimana yang telah termaktub dalam Al-Qur’an surat Al Baqoroh ayat 284


فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

]]>
Puasa 9-10 Muharram : Sejarah, Hukum dan Fadhilahnya https://darulamanahbedono.com/puasa-9-10-muharram-sejarah-hukum-dan-fadhilahnya/ Wed, 26 Jul 2023 11:02:40 +0000 https://darulamanahbedono.com/?p=458 Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang lebih mulia di antara bulan-bulan yang lainnya. Keempat bulan tersebut adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Hal tersebut berdasarkan pada Hadis Nabi Muhamad SAW.

قَالَ رَسُوْل اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثُ مُتَوَالِيَاتٌ ذُوالْقَعْدَةِ وَ ذُوالْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادى وَشعْبَان

“Nabi SAW. Bersabda : sesunggguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada 12 bulan, di antaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu dzulqo’dah, dzulhijjah dan muharram. Serta rajab yang diagungkan bani Mudlar yaitu antara Jumadil tszni dan Sya’ban” (H.R. Bukhori).

Muharram juga menjadi bulan yang syarat akan sejarah. Sebab pada bulan ini pula umat islam memperingati tahun baru hijriyah. Sebab muharram merupakan bulan pertama dari 12 bulan yang ada dalam kalender islam.

Sebagai salah satu bulan yang mulia, Maka bulan muharram memiliki amalan-amalan khusus yang sunnah untuk dilakukan di dalamnya. Salah satu di antaranya adalah amalan berpuasa di hari tasu’a dan Asyuro atau puasa pada tanggal 9 dan 10 bulan muharram.

Sejarah Puasa tasu’a dan asyura

Puasa Tasu’a dan Asyuro atau puasa pada tanggal 9 dan 10 bulan muharram tentu sudah sangat familiar. Namun tahukah kalian, bagaimana asal mula pensyariatan puasa di dua hari tersebut ?

Dahulu Nabi Muhammad SAW pernah bertemu dengan orang-orang yahudi pada tangggal 10 Muharram. Ternyata pada hari tersebut mereka (orangg-orang yahudi) sedang berpuasa. Lalu Nabi pun bertanya kepada mereka : “kenapa kalian melaksanakan puasa ?” mereka pun menjawab bahwa mereka berpuasa karena pada tanggal 10 Muharram Nabi Musa selamat dari kejaran Fir’aun. Pada hari tersebut, Fir’aun kalah dari Nabi Musa melalui mukjizatnya yang bisa membelah lautan.

Mendengar hal tersebut, Nabi pun terkejut dan mengatakan kepada kaum Yahudi bahwa Beliau lebih berhak terhadap Nabi Musa dibandingkan dengan kalian, Bani Israil. Sebab Nabi Muhammad adalah penerus tugas dari Nabi-nabi terdahulu, termasuk Nabi Musa. Oleh sebab itulah, setelah kejadian tersebut, Nabi Muhammad SAW kemudian memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa pada hari tersebut (10 Muharram).

Cerita ini berdasar pada Hadis Riwayat Imam Muslim :

عَنْ إِبْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قال : قَدِمَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم الْمَدِيْنَةَ, فَوَجَدَ الْيَهُوْدَ يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَسُئِلُوْ عَنْ ذَالِك ؟ فَقَالُوْا : هَذَا الْيَوْمُ الَّذِيْ اَظْهَرَ اللهُ فِيْهِ مُوْسَى, وَبَنِيْ إِسْرَائِيْلَ عَلَى فِرْعَوْنَ, فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ : نَحْنُ أَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ (رواه مسلم)

“Dari ibnu Abbas ra, beliau berkata : ‘Rasulullah SAW hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang yahudi berpuasa Asyura. Mereka ditanya tentang puasanya tersebut, lalu menjawab : ‘Hari ini adalah hari di mana Allah SWT memberikan kemenangan kepada Nabi Musa as dan Bani Israil atas Fir’aun. Maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa’. Kemudian Nabi SAW bersabda: ‘Kami (umat islam) lebih utama memuasai Nabi Musa daripada kalian’. Lalu Nabi SAW memerintahkan umat islam untuk berpuasa di hari Asyura” (H.R. Muslim)

Selanjutnya kaitannya dengan puasa di tanggal 9 bulan Muharram, kitab Fathu al Muin menjelaskan bahwa puasa tersebut untuk membedakan dengan kaum Yahudi maka puasa mulai dari tanggal 9 Muharram. Namun apabila tidak mulai dari tanggal 9 maka boleh menambah dengan puasa pada tanggal 11. Kendatipun Imam Syafi’I berpandangan bahwa puasa hanya pada tanggal 10 saja boleh.

Hukum Puasa Tanggal 9 dan 10 Muharram

Hukum berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram adalah sunnah sebagaimana penjelasan pada hadis sebelumnya. Pertanyaan yang paling mungkin muncul adalah pada hadis tersebut tidak ada penyebutan mengenai puasa tanggal 9. Melainkan hanya menyebutkan puasa di hari Asyura.

Kesunnahan puasa di tanggal 9 bukan merupakan Sunnah yang di ambil dari sabda Nabi (Qouliyyah), atau perbuatan Nabi (Fi’liyyah), atau ketetapan Nabi (Taqririyyah). Namun kesunnahan berpuasa di hari ke-9 bulan Muharram di dasarkan pada bahwa hal tersebut merupakan cita-cita Nabi Muhammad SAW. Sebab dalam riwayatnya, Nabi belum pernah melaksanakan puasa Tasua.

Perkara ini bersandar kepada Hadis Riwayat Imam Muslim :

عَنْ عَبْدِالله بْنَ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما يَقُوْلُ حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوْا : يَارَسُوْلَ الله إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُوْلُ الله فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم

“Dari Ibnnu Abbar ra, Rasullah SAW berpuasa pada Asyuro (10 Muharram). Para sahabat memberi tahu, ‘Ya Rasulallah, itu adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani’. Rasul SAW menjawab, ‘kalau ada kesempatan pada tahun depan, Insya Allah kita akan berpuasa Tasua (9 Muharram)’. Ibnu Abbas berkata, ‘belum datang tahun depan, tetapi Rasulullah sudah terlebih dahulu wafat” (H.R. Muslim).

Berlandaskan pada hadis tersebut, maka berpuasa hari ke-9 bulan Muharram termasuk sunnah. Sebab Nabi Muhammad SAW memiliki cita-cita untuk melaksanakannya. Meskipun beliau sendiri belum pernah melaksanakan sebab sudah terlebih dahulu wafat.

Fadhilah Puasa Tanggal 9 dan 10 Muharram

Berbicara tentang fadhilah atau keutamaan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 bulan Muharram, maka sudah pasti barang siapa yang melaksanakannya akan mendapatkan keutamaan yang luar biasa. Pertama, akan mendapat pahala yang sangat besar dari Allah SWT. Sebab melaksanakan puasa pada bulan yang mulia.

Kedua, mengutip dari kitab Al Fiqhu Al Islam Wa Adillatuhu karya Dr. Wahbah Zuhaili bahwa puasa pada hari Asyuro bisa meleburkan dosa selama satu tahun yang telah lalu sebagai mana hadis :

وَيَتَأَكَّدُ صِيَامُ عَشُوْرَاء لِقَولِهِ صلى الله عليه وسلم : أُحْتُسِبَ عَلَى اللهِ تَعَالَى اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ

“(Puasa Asyuro) diganjar oleh Allah SWT  dengan dilebur dosa (kecil) selama satu tahun sebelumnya”

Lebih lanjut Dr. Wahbah Zuhaili menjelaskan melalui hadis yang lain :

صَوْمُ يَوْمُ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً, وَصَوْمُ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

“Puasa hari Arafah menghapus dosa selama dua tahun, setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang. Dan puasa hari Asyuro menghapus dosa setahun yang telah lalu”.

Dari penjelasan tersebut, maka bisa kita pahami betul bahwa puasa pada tanggal 9 dan 10 bulan Muharram merupakan puasa sunnah yang memiliki keutamaan yang sangat besar.

]]>