PON. PES. DARUL AMANAH BEDONO AGENDA,KAJIAN Kenali Tingkatan Dan Rahasia Puasa Menurut Kitab Mauidzotul Mukminin

Kenali Tingkatan Dan Rahasia Puasa Menurut Kitab Mauidzotul Mukminin

Al Ustadz Fina Ni’amul Mahbub, M.Pd dalam kegiatan ngabuburit ramadhan di pondok pesantren Darul Amanah Bedono. Dalam kajiannya menyampaikan kitab Mauidzotul Mukminin yang merupakan mukhtashor dari kitab ihya ulumudin. Kajian tersebut membahas Beberapa hal secara detail dan menarik hingga menambah kesan tersendiri bagi pendengarnya. Dalam kajian tersebut Al ustadz fina ni’amul mahbub, M.Pd menyampaiakan perkara tingkatan dan rahasia puasa menurut kitab Mauidzotul Mukminin.

Tingkatan Puasa

Menurut Imam Al Ghazali rahimahullah

للصوم ثلاث مراتب: صوم العموم ، وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص

 “Puasa itu memiliki tiga tingkatan: Puasa Umum, Puasa Khusus, dan Puasa Khusus dari Khusus.”

  1. Pertama

فأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة.-

“Maka adapun puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menuruti syahwat.”

Tingkatan puasa pertama adalah puasa umum. Puasa umum adalah puasanya orang awam. Yang mana godaan terberat dalam puasa ‘umum ini adalah menahan perut dari mulai makan, minum dsb. Selain perut hal yang terberat dalam tingkatan ‘umum ini adalah menahan kemaluan dari hawa hafsu seperti berseggama, berzina dan lain sebagainya. Kita sebagai orang awam dalam tingkatan ini hendaklah menjaga kedua hal tersebut.

وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوصِ وَهُوَ صَوْمُ الصَّالحِيْنَ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ

2. Kedua

“Dan adapun Puasa Khusus adalah puasanya orang-orang saleh, adalah menahan pendengaran, pandangan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa.”

Puasa Khusus adalah tingkatan puasa yang lebih dari sekadar menahan diri dari makan dan minum. Ini adalah puasanya orang-orang saleh yang menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Puasa ini bertujuan untuk mencapai kesucian hati dan kedekatan yang lebih dalam dengan Allah.

3. Ketiga

وأمَّا صَوْمُ خُصُوْصِ الخُصُوْصِ فَصَوْمُ القَلْبِ عَنِ الهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللهِ عزَّ وجَلَّ بِالكُلِّيَّةِ وَيَحْصُلُ الفِطْرُ في هذَا الصَّوْمِ بِالفِكْرِ فيمَا سِوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاليَوْمِ الْآخِرِ وَبِاْلفِكْرِ في الدُّنْيَا، وَهٰذِهِ رُتْبَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالمُقَرَّبِيْنَ فإنَّهُ إِقْبَالٌ بِكُنْهِ الهِمَّةِ علَى اللهِ عزَّ وَجَلَّ وَانْصِرَافٌ عَنْ غَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ. ا.هـ بتصرّف

“Dan adapun Puasa Super Khusus adalah puasanya hati dari selera yang rendah, pikiran keduniaan, dan menahanya dari berpaling kepada selain Allah Allah subḥānahu wataʿālā secara totalitas.

Puasa Super Khusus adalah tingkatan siyam tertinggi. Dimana seseorang tidak hanya menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu, tetapi juga menjaga hati dan pikirannya dari hal-hal duniawi yang dapat menjauhkan dari Allah. Ini mencakup menghindari keinginan rendah, menjaga fokus hanya kepada Allah, dan mencapai ketulusan serta kesucian batin secara total.

Rahasia-Rahasia Puasa

Al Ustadz Fina Ni’amul Mahbub, M.Pd melanjutkan materi pembahasan yaitu rahasia-rahasia puasa. Dalam Kitab Mauidzotul Mukminin, Imam Al-Ghazali menjelaskan keharusan untuk menjaga enam rahasia puasa agar ibadah ini benar-benar diterima oleh Allah:

  • Menjaga pandangan (ghadhdhul bashar) dari segala hal yang haram, karena pandangan adalah pintu pertama masuknya godaan.

Dalam konteks ini yaitu menundukkan pandangan dan menjaganya dari jangkauan pandangan segala sesuatu yang merendahkan. Selain itu juga semua yang menyibukkan hati dan melalaikannya dari Allah SWT. Oleh sebab itu, mata merupakan pihak pertama yang menjadi pintu masuknya segala kebaikan dan keburukan, maka dia menempati urutan pertama yang harus terjaga.

  • Menjaga lisan dari ucapan sia-sia, ghibah, fitnah, dan pertengkaran. Menahan telinga dari mendengar hal-hal yang haram atau tidak bermanfaat.

Puasanya lisan, menurut Al-Ghazali, berarti menjaganya dari perkataan yang sia-sia, dusta, ungkapan adu domba,dan perkataan keji. Selain itu, ucapan yang merusak hubungan, kata permusuhan, dan ungkapan yang mengandung riya juga termasuk didalamnya. Demikian sebaliknya, anjuran ketika sedang berpuasa untuk berdiam diri serta menyibukkan dengan zikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.

  • Menjaga pendengaran mencegah pendengaran dari hal-hal yang makruh.

   Menurut Al-Ghazali, setiap ucapan yang haram berarti haram pula mendengarkannya. Maka dari itu, Allah menyamakan antara orang yang mendengar dengan yang makan makanan haram, seperti firman-Nya: “Mereka orang-orang yang suka mendengar untuk berdusta dan memakan yang haram.” (QS Al-Maidah [5]: 42).

  • Menjaga tangan dan kaki dari perbuatan maksiat serta menghindari makanan syubhat ketika berbuka.

Menjaga tangan dan kaki dari perbuatan maksiat berarti menghindari segala tindakan yang dilarang oleh agama. Sebagai contoh seperti mencuri, menyakiti orang lain, atau melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sementara itu, menghindari makanan syubhat saat berbuka berarti memastikan makanan yang dikonsumsi halal dan tidak diragukan kehalalannya. Sehingga ibadah puasa tetap bersih dan diterima oleh Allah.

  • Tidak berlebihan dalam berbuka, karena tujuan siyam adalah menundukkan hawa nafsu, bukan sekadar menunda makan.  

Saat berbuka puasa, sebaiknya tidak berlebihan dalam makan dan minum. Tujuan utama siyam adalah melatih pengendalian diri dan menundukkan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan haus di siang hari lalu berlebihan saat berbuka. Makan secukupnya akan membantu tubuh tetap sehat dan menjaga spiritualitas puasa agar tetap murni.

  • Merasa takut dan berharap kepada Allah, karena seorang mukmin sejati tidak pernah merasa aman dari tertolaknya amal.

Seorang mukmin sejati selalu merasa takut dan berharap kepada Allah. Takut karena ia sadar bahwa amalannya bisa saja tidak diterima akibat kekurangan atau ketidaktulusan, dan berharap karena ia yakin akan rahmat serta ampunan Allah. Sikap ini menjadikannya terus berusaha memperbaiki diri, meningkatkan keikhlasan, dan tidak merasa sombong atas amal yang telah dilakukan.

Related Post